Back to all posts

Small Talk

Sep 03, 2023
7 min read

Beberapa hari lalu diculik Firdha untuk makan bareng. Lalu kami pergi ke taman lapangan banteng, supaya dekat dengan kantor. Cukup sepi, karena siapa juga yang akan datang ke sini hanya untuk sekedar istirahat makan siang.

Taman adalah tempat favoritku. Sambil makan, kami bisa cerita panjang lebar. Mulai dari keraguan hidup saat ini, ketakutan akan masa depan, bagaimana seorang tokoh harus bersikap di hadapan publik, ceramah-ceramah penenang jiwa, deeptalk sebelum menikah, dan masih banyak lagi.

Kemudian ada di suatu momen aku mengatakan, "Aku nggak bisa basa-basi small talk. Kalau ketemu orang dalam grup besar terus nanya eh apa kabar, si ini gimana si itu gimana. Aku bingung."

Bingung karena topiknya kurang menarik untukku, pun jawaban yang dilontarkan hanya akan sekali berucap lalu selesai. Sedangkan kalau ngobrol berdua, bertiga, bisa ngobrol banyak hal tanpa melabeli dan menghakimi. Bisa benar-benar saling bercerita dan didengarkan. Masing-masing akan saling menarik napas panjang dan merenungkan berbagai hal dengan hati-hati.

Seru banget saat kami ngobrol tentang bagaimana seharusnya seorang publik figure berpendapat di muka umum. Seharusnya, dengan begitu banyaknya audiens yang mendengar, kita harus jauh lebih hati-hati dalam bersikap. Tentang apa-apa yang kita tulis di sosial media, tentang pendapat pribadi yang seharusnya disampaikan dengan cara yang lebih santun. Karena, apa yang kita sampaikan bukan lagi untuk diri kita sendiri, melainkan akan dikonsumsi jutaan orang yang akan mendengar apa pun yang kita sampaikan.

Atau cerita dari Firdha tentang kanal youtube "Yaqeen Institute". Di kanal tersebut, sang ustadz menyampaikan berbagai isu dari sudut pandang Islam yang justru menentramkan. Contohnya, apabila seseorang merasa kecewa, depresi, ingin bunuh diri, bukan berarti orang tersebut tidak punya iman. Bukan berarti pula, kita bebas menghakimi apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Justru sebagai muslim yang baik, kita seharusnya merangkul dan mendengarkan. That's the beauty of Islam. 

Lantas kami berpendapat, seharusnya beginilah cara menyampaikan opini dihadapan publik yang baik. Mengingatkan tanpa menggurui, menasihati tanpa menyakiti, dan memberi tahu tanpa merasa paling benar. 

Tidak bisa jika harus menceritakan apa saja yang kami bahas. Karena pertemuan singkat itu rasanya seperti tiupan angin diantara dedaunan. Sebentar, tapi berkesan. 

Namun, hal yang tetap aku suka adalah deeptalk dan ngobrol tentang apa saja dengan segelintir orang di taman itu sangat menyenangkan dan menenangkan. 

Author

Written by

Emma Afifah

Share this post