Hari ini aku meraut pensilku, kemudian tiba-tiba aku berpikir tentang filosofi meraut pensil. Pensilku yang tadinya tumpul, kuruncingkan dengan rautan. Setelah runcing, aku baru bisa menggunakan pensilku untuk menulis, membuat coretan, dan menggambar.
Aku berpikir, bagaimana jika hal tersebut kita implementasikan dalam hidup? Sebenarnya kita adalah manusia yang masih banyak tidak tahunya, masih bodoh. Lalu ambil waktu sejenak untuk meruncingkan ujung pensil kita. Meraut pikiran kita dengan banyak membaca, banyak mendengar, banyak belajar hal-hal baru.
Seringkali kita menjadi manusia yang tergesa-gesa. Ingin apa, maunya sekarang juga. Sehingga kita lupa untuk sejenak meruncingkan ujung pensil kita. Terus meraut sampai ujung pensil kita runcing untuk siap digunakan. Kita ingin apa-apa serba instant sampai lupa untuk memperbanyak ilmu kita dahulu. Kita lupa untuk banyak belajar dahulu. Padahal ada pepatah mengatakan, "berilmu dulu baru beramal". Namun seringnya, kita ingin buru-buru beramal, padahal ilmunya masih belum seberapa untuk diamalkan.
Pensil yang sudah diraut hingga runcing, bukan berarti ia akan tetap runcing. Ada suatu waktu, saat kita terus menggunakannya, ujungnya akan menjadi tumpul, sehingga perlu diraut kembali. Begitu juga hidup. Ilmu yang sudah kita pelajari, juga perlu kita tingkatkan. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang senantiasa terus belajar dan maju.
Selalu seperti itu polanya. Meraut pensil hingga runcing, menggunakannya, pensil menjadi tumpul, lalu meruncingkannya kembali hingga batangnya sudah sangat pendek dan tak mungkin digunakan lagi. Untuk itu, jadilah manusia yang senantiasa meraut pensil hingga raga kita sudah tak bisa lagi digunakan mempelajari ilmu-ilmu baru.
Hal yang selalu kuingat dalam hidupku, salah satu amalan yang tidak habis hingga dibawa mati adalah ilmu yang bermanfaat. Selagi kamu masih mampu dan bernapas, yuk senantiasa raut terus pensilmu dengan ilmu-ilmu baru yang mungkin dapat menolongmu di kemudian hari.